Ririn's Page

Thursday, February 16, 2012

There is always new hope

Aku menutup pintu perlahan, tak ingin ibu terbangun dari tidurnya. Sudah hampir menjelang subuh dan mungkin sebentar lagi pun matahari akan buru-buru muncul. Aku kembali mendengar suara batuk ibu untuk kesekian kalinya. Sepanjang malam aku menjaga dan menemaninya sekarang mataku terasa sangat perih, ini sudah hampir 2 bulan aku tak lagi bisa menikmati tidur malam karena harus menjaga ibu.

Aku hanya punya ibu, sejak ayah meninggal 2 tahun lalu, sementara ibu kadang-kadang merasa tak punya siapa-siapa sejak ayah tak ada, merasa tak ingin melanjutkan hidup dan ingin menyusul ayah katanya beulang kali. Aku tau aku takkan pernah menggantikan posisi ayah disampingnya, takkan bisa mengerti persis apa yang dirasakannya, aku tau aku takkan bisa memberikan apa yang pernah didapatkannya dari ayah. Tapi sesekali aku juga ingin dia tau aku masih membutuhkan perhatian seorang ibu. Ada saatnya aku merasa ibu tak adil padaku, tak seharusnya dia menempatkanku pada posisi ini, aku juga tak ingin ayah pergi meninggalkan kami. Tapi seperti janjiku pada almarhum ayah aku harus tetap menjaga ibu.


Kucoba sejenak membaringkan tubuhku di sofa, berharap aku bisa istirahat paling tidak satu jam saja.

Glenn, seorang anak berumur 4 tahun membawakanku lukisan yang dibuatnya sendiri. Aku tak tau tepatnya ini lukisan apa tapi sepertinya dia sedang mencoba melukis sebuah rumah dengan pohon besar di halamannya.

"Ini rumah buat ibu…" Glenn memberikan lukisannya padaku, senyumnya mengisyaratkan kebahagiaan yang sangat besar.
"Terimakasih sayang," kucium keningnya dan kubelai-belai rambutnya. Dia salah satu siswa dari kelas toodler yang paling dekat denganku.
"Sinta!" aku terkejut seseorang menepuk punggungku sangat keras.
Aku terkejut dan tersadar barusan hanyalah mimpi. Jarum pendek di jam dinding menunjukkan angka 7. Sontak aku berdiri dan berlari ke kamar mandi.

Tidak!! Tidak!! Jangan lagi kumohon… aku berharap dalam hati.
Seminggu belakangan ini aku selalu terlambat dan baru kemarin aku dapat peringatan dari kepala sekolah tempatku mengajar. Dalam waktu 15 menit aku sudah ada di halte untuk menunggu angkutan umum. Syukurlah mini bus yang kutunggu segera datang. Aku tak tahu ini hanya perasaanku saja atau tidak tapi aku merasa perjalanan ini menjadi sangat lama dan panjang. Aku pasti akan terlambat, kusandarkan tubuhku dan  kurenungi nasibku yang sudah sangat kacau hampir 2 tahun ini. Kapan ini semua akan berakhir Tuhan?

Akhirnya, kepala sekolah memarahi aku habis-habisan. Seharusnya aku bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak, bukan malah memberi contoh yang buruk, katanya tepat di wajahku. Aku tahu aku salah, aku menyesal, dan aku hanya bisa menunduk di depan Bapak Kepala Sekolah.
"Tidak ada lain kali lagi!" tegas Bapak Kepsek.
Aku hanya mampu mengangguk mengiyakan.
Aku terduduk di bangkuku di ruang guru. Menunduk. Menghela di nafasku. Nasibku begitu buruk. Hanya itu yang ada di pikiranku yang mumet.
"Berliburlah," sebuah suara yang tak asing mengusikku, suara Rena, teman seperjuangan sejak dulu.
"Berlibur?" tanyaku tanpa perlu mengangkat kepala.
"Yah, aku pikir kamu butuh sesuatu yang dapat menyegarkan kepalamu," ucapnya langsung tepat pada sasaran.
"Tidak mungkin, Na. Aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian," kataku, kali ini aku mengangkat kepala, menatap Rena seolah meminta pendapat lebih lanjut.
"Bawalah ibu bersamamu, mungkin itu ajang untuk kalian lebih dekat lagi seperti dulu."
Rena sudah tahu banyak, bahkan sangat banyak. Tidak ada yang tidak diketahui olehnya tentangku.
Aku menggeleng. "Aku tak tahu apakah ibu mau.."
"Bagaimana kamu bisa tahu teh itu manis kalau kamu tidak mencicipinya?" perkataanku dibalas dengan sebuah pertanyaan.
Baiklah, akan ku coba, bisikku dalam hati.

**

"Ibu.." seruku di sisi tempat tidurnya.
Dia tidak menjawabku, hanya menatap ke dalam mataku, dan memberikan senyum yang tidak lebar, tidak sehangat dulu.
"Bagaimana jika kita mengunjungi kampung halaman ayah?" ibuku tersentak. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan bercampur kesedihan, keduanya terlihat samar, aku tak tahu pasti. Tidak lama kemudian, ibu mengangguk. Aku hanya bisa tersenyum getir melihat semangat ibu yang sudah kandas tak bersisa sedikit pun.

Sesampainya di rumah peninggalan almarhum kakek dan nenek, ku lihat ibu rajin membersihkan rumah, merapikan tata letak rumah. Entah apa yang membuat ibu seperti itu, tetapi aku senang. Ku lihat sedikit keceriaan terpancar di wajahnya yang tidak muda lagi.

Aku baru saja pulang dari pasar, membeli perlengkapan dapur. Aku tidak menemukan sosok ibu di ruang tamu, tidak juga di dapur. Aku mencari di kamar tamu tempat ibu tidur, juga tidak ada. Kemana ibu pergi?
"Ibu .." panggilku tanpa ada sahutan.
Aku melangkah ke dalam kamar yang setengah terbuka. Ku lihat ibu sedang melihat foto-foto lama. Ku perhatikan kamar yang tidak terlalu besar. Sebuah bingkai berisi foto lama sepasang kekasih yang masih muda terpampang di dinding. Setelah ku telaah, aku sadar ini adalah kamar ayahku dulu ketika ia belum menikah dengan ibu.

"Ibu," kataku.
Ibu sedikit terkejut mendengar suaraku. Kulihat ibuku mengeluarkan air mata. Pertama hanya setetes, lalu ibu mulai terisak. Aku heran. Aku panik.
"Kenapa, Bu?" tanyaku dan menggenggam kedua tangannya.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu salah membiarkanmu berjuang sendiri. Ibu egois membiarkanmu hidup sendiri selama ini. Ibu bukanlah ibu yang baik," kali ini Ibu sudah memelukku dengan erat seolah ia tak akan melepaskanku lagi. Aku terhenyak.
"Maafkan Ibu, Sinta!" ibuku masih terisak.
Tanpa kusadari lagi, air mata sudah mengalir deras di pipi ku. Aku tak kuasa melihat ibuku menangis. Aku tak kuasa. Ku balas pelukan ibu seerat yang aku bisa. Aku ingin ibu bisa seperti dulu lagi, hatiku berteriak.

Jadilah kami bertangis-tangisan.
"Tidak apa, Bu," kataku ketika ibu sudah tenang.
Ku lepaskan pelukannya, dan ku tatap wajahnya yang sudah tidak muda lagi. Ada secercah harapan ku lihat di kedua matanya.
"Maukah ibu memulai semuanya dari awal lagi? Berdua bersamaku?" tanyaku menatap ke dalam mata ibu.
"Tentu, Sinta. Tentu ibu mau."
Aku tersenyum. Akhirnya, inilah wajah ibuku yang sebenarnya, yang semangat, selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, aku.


Nulis duet dengan tema : Memulai
Oleh @da_manique dan @ririntagalu
Balige dan Jakarta

2 comments: